Kenapa harus naik gunung?
Banyak orang yang demikian, mereka terheran-heran kenapa ada orang seperti saya yang hobi bahkan sudah addict untuk naik naik gunung. Awalnya saya hanya menjawab bahwa itu adalah hobi saya, setiap orang pasti punya hobinya masing-masing, jawaban standar yang selalu saya ajukan kepada mereka semua yang pernah bertanya seperti itu kepada saya. Namun lama kelamaan akhirnya saya juga memikirkan lebih panjang pertanyaan orang-orang itu, dan saya pun terkadang merenung untuk memikirkanya, ketika jaman sudah canggih dan modern, kenapa justru orang seperti saya malah sedikit menjauh dari peradaban, menjalani cara yang sedikit primitf hanya untuk sekedar mencari keringat dan bermain.
Kesimpulan pun didapat, bahwa naik gunung itu bukan hanya sekedar perjalanan naik menuju puncak dan setelah sampai di puncak kita turun lagi, tapi ada banyak sekali bahkan berjuta hikmah/pelajaran/pengalaman yang didapat dari setiap perjalanan dan setiap gunung.
Layaknya perjalanan spiritual, naik gunung menyadarkan saya bahwa diri saya sangatlah kecil dibandingkan dengan alam semesta ciptaan Tuhan, hanya ada kita, teman pendaki, dan Tuhan, disanalah saya merasa bahwa saya sangatlah dekat dan bergantung kepada Tuhan yang maha pencipta. Ketika saya berada di puncak sebuah gunung saya dapat melihat hamparan awan dan bumi yang membentang luas, yang merupakan ciptaan Tuhan bagi kita umat manusia, seolah-olah perjalanan tersebut dapat menguatkan keimanan dan ketakwaan saya terhadap Tuhan sang pencipta.
Ketika saya berada di sebuah gunung saat itulah saya merasa jauh dari orang tua, memang tidak ada yang memarahi kita seperti kita di rumah, tapi ketika saya di gunung saya disadarkan betapa pentingnya arti orang tua, terkadang saya merasa kangen pada mereka, saya disadarkan bahwa perlakuan saya selama ini kepada orang tua masih jauh dari selayaknya, sehingga saya sadar bagaimana rasanya tidak ada orang tua walau hanya beberapa hari saja ketika di gunung, tidak terbayang rasanya bagaimana ketika saya ditinggal orang tua untuk selamanya, sehingga saya sadar bahwa saya harus melakukan yang terbaik untuk mereka selama mereka masih ada mencintai dan menyayangi saya di dunia ini.
Dari perjalanan suatu gunung, saya mendapatkan teman yang lebih dari sahabat, bahkan terkadang mereka terasa lebih dari saudara kita sendiri. Karena ketika saya naik gunung bersama sahabat-sahabat saya, saya tau mereka semua sahabat sejati, ketika beban ransel saya berlebih, mereka mau berbagi beban, ketika saya lelah di jalan menanjak bahkan terjatuh, mereka dengan setia menolong dan menemani saya. Rasa persaudaraan lebih terasa ketika kami memasak bekal dan makan bersama, saya rasa tidak ada teman selain mereka yang mau berbagi makanan bersama seperti sahabat-sahabat tersebut. Bahkan bukan hanya ketika berada di gunung, ketika saya berada dalam kehidupan sehari-hari pun saya merasakan arti persaudaraan yang tidak saya dapat dari teman-teman yang lainnya.
Uang adalah hal yang paling tidak berguna ketika saya berada di gunung. Ketika jamanya semua bergantung kepada uang, semua bisa dibeli dengan uang, tapi dalam perjalanan ketika saya berada di gunung uang adalah barang yang palin tidak berguna. Di gunung yang kita perlukan adalah kemampuan diri kita sendiri. Sehingga saya belajar bahwa uang bukan segalanya, tapi untuk menuju puncak tujuan cita-cita kita hanya dibutuhkan potensi diri kita untuk berkembang, jadi saya belajar untuk tidak dibutakan oleh uang.
ketika orang-orang seusia saya di jaman sekarang ini mengutamakan gaya, lifestyle dan pergaulan seperti menghabiskan uang untuk berbelanja di mall, nongkrong di cafe, berkeliaran seperi geng motor yang mereka pikir itu jati diri mereka, dan menurut mereka itu cara mereka berekspresi. Saya justru merasa menemukan jati diri saya ketika saya berada di gunung, saya merasa seperti manusia bebas, semuanya tergantung pada diri sendiri, tapi tetap fokus pada satu tujuan yaitu puncak atau cita-cita.
Keheningan dan kesunyian alam terkadang membuat saya merenung siapa saya sebenarnya, saat itulah saya memaknai semua kesalahan saya, dan membuat sebuah resolusi baru untuk hidup saya kedepanya. Merenungkan dosa-dosa yang pernah saya perbuat, berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukanya. Mungkin karena itulah banyak orang yang mencari ketenangan dan ketentraman batin di gunung (semedi).
Kesimpulanya setiap manusia harus mencari jati dirinya masing-masing, mau jadi apa dia di dunia ini dan akhirat kelak, hanya manusia itu sendiri yang memutuskan. Hal-hal diatas hanyalah sebagian dari apa yang didapatkan dari perjalanan sebuah gunung. Hal lainya yang saya dapat dari setiap perjalanan saya di gunung yaitu membuat saya menjadi seorang manusia yang sesungguhnya, manusia yang tidak mengenal putus asa, manusia yang harus selalu bersyukur, manusia yang harus memiliki potensi dan prinsip hidup, dan yang terpenting yaitu manusia yang tau apa itu arti manusia.
Itulah yang saya dapat dari naik gunung, apakah itu semua bisa saya dapatkan di tempat lain?jawabanya TIDAK! karena itu pengalaman yang paling berharga dan saya akan terus bertualang mencari hal-hal baru di dunia ini, karena manusis tidak boleh lelah menjadi seorang manusia.
Kesimpulan pun didapat, bahwa naik gunung itu bukan hanya sekedar perjalanan naik menuju puncak dan setelah sampai di puncak kita turun lagi, tapi ada banyak sekali bahkan berjuta hikmah/pelajaran/pengalaman yang didapat dari setiap perjalanan dan setiap gunung.
Layaknya perjalanan spiritual, naik gunung menyadarkan saya bahwa diri saya sangatlah kecil dibandingkan dengan alam semesta ciptaan Tuhan, hanya ada kita, teman pendaki, dan Tuhan, disanalah saya merasa bahwa saya sangatlah dekat dan bergantung kepada Tuhan yang maha pencipta. Ketika saya berada di puncak sebuah gunung saya dapat melihat hamparan awan dan bumi yang membentang luas, yang merupakan ciptaan Tuhan bagi kita umat manusia, seolah-olah perjalanan tersebut dapat menguatkan keimanan dan ketakwaan saya terhadap Tuhan sang pencipta.
Ketika saya berada di sebuah gunung saat itulah saya merasa jauh dari orang tua, memang tidak ada yang memarahi kita seperti kita di rumah, tapi ketika saya di gunung saya disadarkan betapa pentingnya arti orang tua, terkadang saya merasa kangen pada mereka, saya disadarkan bahwa perlakuan saya selama ini kepada orang tua masih jauh dari selayaknya, sehingga saya sadar bagaimana rasanya tidak ada orang tua walau hanya beberapa hari saja ketika di gunung, tidak terbayang rasanya bagaimana ketika saya ditinggal orang tua untuk selamanya, sehingga saya sadar bahwa saya harus melakukan yang terbaik untuk mereka selama mereka masih ada mencintai dan menyayangi saya di dunia ini.
Dari perjalanan suatu gunung, saya mendapatkan teman yang lebih dari sahabat, bahkan terkadang mereka terasa lebih dari saudara kita sendiri. Karena ketika saya naik gunung bersama sahabat-sahabat saya, saya tau mereka semua sahabat sejati, ketika beban ransel saya berlebih, mereka mau berbagi beban, ketika saya lelah di jalan menanjak bahkan terjatuh, mereka dengan setia menolong dan menemani saya. Rasa persaudaraan lebih terasa ketika kami memasak bekal dan makan bersama, saya rasa tidak ada teman selain mereka yang mau berbagi makanan bersama seperti sahabat-sahabat tersebut. Bahkan bukan hanya ketika berada di gunung, ketika saya berada dalam kehidupan sehari-hari pun saya merasakan arti persaudaraan yang tidak saya dapat dari teman-teman yang lainnya.
Uang adalah hal yang paling tidak berguna ketika saya berada di gunung. Ketika jamanya semua bergantung kepada uang, semua bisa dibeli dengan uang, tapi dalam perjalanan ketika saya berada di gunung uang adalah barang yang palin tidak berguna. Di gunung yang kita perlukan adalah kemampuan diri kita sendiri. Sehingga saya belajar bahwa uang bukan segalanya, tapi untuk menuju puncak tujuan cita-cita kita hanya dibutuhkan potensi diri kita untuk berkembang, jadi saya belajar untuk tidak dibutakan oleh uang.
ketika orang-orang seusia saya di jaman sekarang ini mengutamakan gaya, lifestyle dan pergaulan seperti menghabiskan uang untuk berbelanja di mall, nongkrong di cafe, berkeliaran seperi geng motor yang mereka pikir itu jati diri mereka, dan menurut mereka itu cara mereka berekspresi. Saya justru merasa menemukan jati diri saya ketika saya berada di gunung, saya merasa seperti manusia bebas, semuanya tergantung pada diri sendiri, tapi tetap fokus pada satu tujuan yaitu puncak atau cita-cita.
Keheningan dan kesunyian alam terkadang membuat saya merenung siapa saya sebenarnya, saat itulah saya memaknai semua kesalahan saya, dan membuat sebuah resolusi baru untuk hidup saya kedepanya. Merenungkan dosa-dosa yang pernah saya perbuat, berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukanya. Mungkin karena itulah banyak orang yang mencari ketenangan dan ketentraman batin di gunung (semedi).
Kesimpulanya setiap manusia harus mencari jati dirinya masing-masing, mau jadi apa dia di dunia ini dan akhirat kelak, hanya manusia itu sendiri yang memutuskan. Hal-hal diatas hanyalah sebagian dari apa yang didapatkan dari perjalanan sebuah gunung. Hal lainya yang saya dapat dari setiap perjalanan saya di gunung yaitu membuat saya menjadi seorang manusia yang sesungguhnya, manusia yang tidak mengenal putus asa, manusia yang harus selalu bersyukur, manusia yang harus memiliki potensi dan prinsip hidup, dan yang terpenting yaitu manusia yang tau apa itu arti manusia.
Itulah yang saya dapat dari naik gunung, apakah itu semua bisa saya dapatkan di tempat lain?jawabanya TIDAK! karena itu pengalaman yang paling berharga dan saya akan terus bertualang mencari hal-hal baru di dunia ini, karena manusis tidak boleh lelah menjadi seorang manusia.
hahha,, betul bgt kang ibee! good !
BalasHapusHmmhh...long time no see..hhhaa...take care brad :)
BalasHapus