Sebuah catatan sehelai kain hijau

Teringat ketika pertama kali masuk ke SMA, sekolah yang tidak pernah diharapkan untuk masuk namun takdir memaksa untuk bersekolah disana, bahkan ketika hari pertama penyuluhan/persiapan Masa Orientasi Siswa semuanya serba mendadak. Bukan pertama kalinya saya ke SMA itu karena memang kakak saya sudah terlebih dahulu masuk kesana dan dia sempat menjadi "trending topic" SMA dengan black record yang dibuatnya, itu hal pertama yang membuat saya tidak berniat disekolah ini. Ketika pengumuman tidak lolos dari SMA yg diinginkan, sedangkan tawaran free SMAN1 saya tolak, maka akhirnya langsung menuju SMA 11, dan ternyata hari itu juga diadakan penyuluhan untuk Masa Orientasi Siswa untuk senin besok, saya pun dengan setelan seadanya langsung masuk diantar seorang guru menuju kelas yang ada dilorong pojok. Wah, orang baru semuanya nih, namun sedikit terheran ketika melihat di bangku sebelah ternyata teman sekelas waktu SMP, bahkan satu ekskul pramuka, alreza namanya dan kata pertama yang keluar, "sial kenapa sekelas lagi ma ni orang".

Hari pertama MOS pun dimulai, dan berbagai drama disaksikan sampai 5 hari termasuk outbond di ranca upas. Sampai ketika ada ekskul yang menawarkan pendaftaran, saat itu yang saya dengar namanya "Dimsipal", setelah bertanya dengan bingklas yang nampaknya kurang gaul, dia menjelaskan bahwa itu ekskul PA(Pecinta Alam) gitu. Dan eja yang merupakan teman sebangku dan sering bertualang bersama dari SMP mengaajak untuk ikut itu ekskul, akhirnya setelah kami berdua mendoktrin teman sekelas untuk ikut "Dimsipal" lumayan, ada 8 orang kelas yang mau ikutan juga. Pada saat kumpul pertama saya baru tau kalo namanya itu Himsipal, agenda waktu itu gak jelas, ada senior bernama Deni dan kami pun berolah-raga, saya tau kalo Deni itu sebenarnya tidak suka berolah raga, karena rute kita lari hanya 1 putaran sekolah(apa capenya tuh?). Di kumpul pertama itu saya bertemu andika dari kelas yang lainya, andika merupakan teman waktu lomba pramuka tingkat 3 Kota Bandung, akhirnya kami pun bersekongkol mencari massa untuk gabung. Setelah pertemuan pertama itu tidak pernah lagi ada kumpul Himsipal, dan saya pun merasa sudah masuk,haha....

Sampai tiba saatnya ada selebaran berisi mengenai Pendidikan Dasar Himsipal, dan dilakukan saat liburan, kami pun semangat mempersiapkanya, supplier sepatu TNI fery, sementara logistik lainya saya dan andika. Kami senang menyambut PD karena berharap itu kemah akbar dan kita diberi pembekalan bermanfaat.

Hari Kamis 19 Januari 2004 merupakan pembukaan PD dimulai, kami pun dibariskan sebagai siswa. Ada beberapa hal lucu sebelumnya diklat dimulai, ketika kami packing dengan kacau balaunya di depan sekre, salah seorang teman kelas ada yang melintas dan bertanya, "Kalian mau kemana?" kami pun menjawab, "Mau kemping roys, ikutan yuk!", dan hebatnya dia pun langsung mengiyakan, pulang membawa tas dan mampir ke warung membeli 3 bungkus indomie. Saat dibariskan terkumpulah 12 orang siswa, penyematan syal pun dilakukan berdasarkan abjad nama, nomer awal saya adalah 1904004, namun setelah pembukaan selesai ada yang berlari membawa ransel besar dengan terburu-buru, ternyata itu adalah Hengky, pantas saja dia telat, semalaman dia nelfon saya konsultasi cara packing sampe jam 2 malam, akhirnya nomer siswa pun bergeser dan saya mendapatkan nomer 1904005. Di sebelah kanan barisan siswa ada barisan instruktur dan anggota Himsipal yang tampak keren dan gagah.

Perjalanan pun dimulai dengan berjalan kaki dari SMAN 11 menuju jalan ciateul, baru jalan 15 menit saja siswa sudah tampak sempoyongan tidak jelas jalanya, untungnya di ciateul sudah ada angkot yang menunggu, dan siswa beserta instruktur pun naik angkot kalapa-dago yang terbagi menjadi 2 angkot. Di dalam angkot kami jadikan kesempatan untuk saling berkenalan, maklum ada beberapa siswa yang baru pertama kali bertemu disitu. Kami pun diturunkan di terminal dago, berjalan baris menuju dago bengkok melewati perkampungan dan menanjak sampai titik triangulasi, dan siswa pun mulai berjatuhan, maklum saja latihan fisik gak pernah apalagi bawa beban nanjak.


Materi Navigasi

Di titik triangulasi itu sudah terdapat beberapa alumni dan banyak anggota instruktur dengan syal hijaunya, siswa pun dikumpulkan membentuk lingkaran di triangulasi tersebut. Berdirilah dihadapan kami seorang senior Tommy namanya, dengan kepala botak kurus dan senyum-senyum sendiri yang menjadi ciri khasnya, dan Tommy punm bertanya, "Siswa, apa itu navigasi?" dan siswa pun terdiam, kembali Tommy bertanya "Kalo triangulasi tau siswa?", dan hanya terdengar suara rumput tertiup angin, akhirnya salah seorang siswa berinisiatif untuk berkata "kang, kita belum diajarin itu". Dan kang Tommy hanya terkejut, dan berkata "Maenya, ari maraneh PD1 nanaonan wae?", para instruktur yang berjumlah 14 orang pun angkat bicara kalau kemarin tidak diadakan PD1, dan saya pun baru tau bahwa ini adalah PD2 yang merupakan lanjutan PD1(kacau banget nih sistem). Akhirnya Tommy terpaksa menjelaskan secara singkat mengenai navigasi dan apa yang akan kita lakukan. Setelah diberi penjelasn yang sangat singkat dan tidak jelas, siswa pun dibagi menjadi 2 kelompok, dan masing-masing kelompok dibekali peta dan kopas bidik. Kelompok pertama: Alreza, Fery, Noer, Syamsul, Roys, Niko, Hengky dan kelompok 2: Andika, Irvan, Rusydan, Mela, Prabowo, Egar, tiap 1 kelompok didampingi oleh 1 orang instruktur dan saya kelompok 2 diampingi oleh Deni.

Karena dikeompok 2 ada saya dan andika yang dulu pernah pramuka, maka setidaknya kami bisa menggunakan kompas dan membaca peta, saat itu kelompok kita menerapkan sistem mobile transit, namun ketika 1 jam berlalu tidak sampai jgua ke tempat tujuan. Deni sebagai instruktur saat itu langsung mengambil komando dan berkata, "udah siswa kalian kelamaan, ikutin saya aja sekarang" kelompok kami pun hanya bisa pasrah dan mengikutinya sebagai intruktur. 15 menit berjalan kelompok kami pun mulai curiga karena melewati jalan kampung yang sepertinya suadh pernah terlewati, sampai akhirnya kami pun keluar kembali di dago bengkok, deni sebagai intruktur hanya berkata "Oh salah jalan siswa, kita balik lagi ke atas" selesai berkata seperti itu salah satu anggota kelompok kami langsung muntah2 karena kecapean dan saya baru kenal kalo itu namanya R.M Prabowo, kesal pun harus kami tahan terhadap sang intruktur. Akhrinya kelompok kami pun dibawa kepuncak bukit dan diistirahatkan disebuah warung, cukup lama kami beristirahat, mungkin sekitar 1 jam dalam keadaan tidak ada instruktur satu orang pun. Setelah 1 jam menunggu datang seorang instruktur dan menyuruh kami mengikutinya, setelah berjalan sekitar 5 menit kami bertemu dengan kelompok 1, namun ada yang aneh disana, para instruktur+alumni berkerumun dan ternyata salah seorang siswa bernama Noer pingsan, kelompk 2 manfaatkan untuk beristrahat ditengah panasnya daerah punclut atas sampai sekitar setengah jam noer terbangun, dan seluruh siswa digiring sampai finish poin di buni wangi, disana kami diberi kesempatan beristirahat. Sambil beristirahat kami makan siang seadanya dan kembali siswa gunakan untuk saling berkenalan satu sama lainya.

Makan siang dan perjalanan menuju Bukit Tunggul


Makan siang itu suasana cukup santai sambil berkenalan, dan tiba-tiba salah seorang siswa yang pingsan tadi(noer) menghampiri alumni yang bernama kang Firman, ternyata dia ingin mundur dan pulang karena merasa sudah tidak sanggup dengan diklat ini, siswa yang lainya hanya bengong, dan kang Firman pun berkata, "Ya sok aja kalo mau pulang sulahkan pulang sendiri, karena intruktur harus mengantar siswa yang lain ke tempat tujuan", noer pun terdiam dan kembali ke kumpulan siswa, dan siswa yang lain terdiam. Setelah beristirahat santai dan saling berkenalan sekitar 1 jam, kami pun diinstruksikan untuk packing kembali dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang pergerakan perkelompok dan diawasi oleh seorang instruktur, perjalanan dari buni wangi secara bergerombol, rombongan siswa yang berjumlah 13 orang berjalan diantara 14 intruktur dan skitar 10 alumni. Dari buni wangi melewati perkampungan warga menanjak terus menerus dengan tanjakan sekitar 60 derajat maka beban dipundakpun serasa makin berat. Ditanjakan itulah saya baru tau yang rasanya kram mulai dari betis sampai paha, dan seorang medik senior mengajarkan saya bagaimana cara mengatasi kram tersebut. Kami pun tiba di meeting poin dimana sebuah angkutan pedesaan dengan pintu berada di belakang siap menunggu kami, siswa pun diangkut dengan angkutan tersebut dan terlelap sampai di tempat tujuan sebuah lapang di pintu hutan yang antah berantah.

Selamat datang di Bukit Tunggul......

"Siswa, selamat datang di Bukit Tunggul!!" sebuah suara yang bersumber dari sebuah sinar di kegelapan malam, dan ternyata itu sinar headlamp dari salah seorang senior, kami pun berjalan dalam gelap dan sadar itu masih perkampungan karena masih terdengar suara sapi dan kambing yang merupakan ternak warga sekitar, sampai tiba kami diantara pepohonan pinus, siswa menikmati indahnya city light Lembang, kami pun mulai akrab memasak dengan parafin dan misting set, hari itupun ditutup dengan tidur lelap didalam bivoac (shelter dari ponco) bersama teman sekelompok.


bersambung......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Rules of My Life

Renungan Rinjani

Papan Panjat HIMSIPAL