Pengalaman “menarik” di Gn.Cikuray

Pengalaman “menarik” di Gn.Cikuray

Waktu itu ketika saya baru tahun pertama masuk HIMSIPAL, keinginan untuk naik gunung sudah mulai tumbuh, tapi pada saat itu tidak ada senior yang bersedia mengantarkan. Akhirnya pada tahun 2004 ibe, udan, hengki, egar, dan 1 orang siswa gagal bernama hasby alias “pohang”. Sabtu pagi dijadwalkan kita kumpul di rumah Hasby, tp karena hengki dan egar ada acara foto kelas akhirnya siang baru kumpul, dan langsung berangkat naik elf menuju Garut. Sesampainya di terminal Garut kita mulai bertanya-tanya angkutan menuju Cikuray, dan ternyata sudah jam lima sore dan angkot pun sudah tidak ada, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di pasar dekat terminal. Sungguh beruntung ketika ada seorang pedagang menawarkan untuk bersama-sama denganya menuju desa patrol yang merupakan kaki Gn.Cikuray, kita pun langsung mengiyakan ajakan tersebut. Di jalan kami mengobrol dan ternyata dia memborong dari pasar untuk dijual kembali di desanya, sesampainya di desa kami pun sempat membantu menurunkan barang belanjaan bapak tersebut. Akhirnya selepas magrib pun kami melanjutkan berjalan kaki menuju stasiun pemancar televisi yang sudah terlihat dan menurut orang-orang desa hanya dibutuhkan waktu 1 jam untuk sampai kesana.

Berlima kami mulai meniti gelapnya malam, senter pun menjadi penerangan satu-satunya, hingga 1 jam lewat kami pun belum sampai di pemancar, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dan melihat kondisi sekitar. Waktu menunjukan jam 9 malam dan kami memutuskan untuk terus maju memotong lembahan untuk pindah ke punggungan berikutnya, namun ketika jalan mulai menanjak kami terhalang oleh ilalang-ilalang yang sangat tinggi sekali, saat kami memutuskan untuk kembali ke punggungan sebelumnya, sangat aneh ketika jalan sudah tidak terlihat dan hanya ada ilalang. Kami pun duduk sejenak untuk evaluasi, sambil menggunakan senter tembak (radius 50m) saya menyinari jalan yang sudah kami lewati, ketika senter mengarah ke punggungan yang di sebrang alangkah kagetnya ketika kami melihat benda berwarna putih layaknya bunga tulip besar yang sedang meloncat-loncat layaknya sebuah pocong, tampaknya benda itu sedang meniti jalan, semua pun terdiam dan saya berinisiatif mematikan senter. Setelah saling terdiam cukup lama akhirnya kami pun menetapkan untuk berkemah disitu, setelah mendirikan tenda dan makan malam semua langsung tertidur dan tidak ada yang berani membahas kejadian tadi. Keesokan subuhnya ketika kami selesai solat subuh, saat kami keluar tenda ternyata di belakang tenda kami adalah sebuah jalan setapak, kami pun langsung bersiap-siap dan berjalan menuju pemancar. Siang kami tiba di pemancar dan kami memutuskan untuk pulang ke Bandung karena batas waktu. Akhirnya pendakian pun dibatalkan dengan sangat kecewa kami pun menyimpulkan bahwa naik gunung hanya modal nekat tanpa informasi adalah hal yang berbahaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Rules of My Life

Renungan Rinjani

Papan Panjat HIMSIPAL