Catatan Perjalanan Gn.Manglayang 1817 mdpl 23-24 Okt '10

Sabtu, 23 Oktober 2010
Bangun di subuh yang indah dan hangat, setelah sholat subuh langsung saya menghubungi teman-teman Himsipal untuk persiapan naik gunung hari ini, ternyata sms sudah menumpuk dari sejak semalam (maklum orang penting banyak yang nagihin)hehe……. semua sms sudah dibalas, semua anggota sudah diberi tahu, tapi ada satu anggota Ahmad Permadi (mod) angkatan 18 yang katanya baru plg dari Jakarta mau ikut, memang semalam sudah ngomong di fb, tp ternyata hape canggih saya tidak menyimpan no makhluk itu, akhrinya susah payah gak dapet juga.
Menurut rencana kumpul di sekolah jam 06.00wib, tp karena bareng dengan siswa baru rasanya kurang nyaman, akhirnya memutuskan buat nanti nyusul jam 09.00 dari rumah, deket soalnya kalo jalur Batu Kuda mah. Jam 09.00 otri datang ke rumah bareng Doni sekalian pinjem DSLR. sampai jam 09.30 orang ciparay baru dateng, dan langsung saja kami bertiga packing berbagi barang bawaan, karena barang bawaan cukup banyak, sesuai rencana kita bakal pesta di puncak Manglayang nanti. Akhirnya perlengkapan senang-senang pun disiapkan, mulai dari kompor gas koper pak tarno, sampai dengan kartu remi sudah tersedia, akhirnya jam 11.00 pun kami langsung meluncur menggunakan mobil menuju Cinunuk – Batu Kuda. Di jalan kami mampir dulu ke warung buat beli tempe(ceritanya mau bikin tempe crispy di puncak), trus lanjut ke indomart beli Pocari Sweat 2L, dan ke griya ujung berung beli minyak goreng sama gas kaleng. Karena terburu-buru ditunggu oleh tim yang sudah sampai Batu Kuda, rencana beli nasi bungkus terlewat, dan tempe pun tertinggal di mobil,ckck…..
Sesampainya di Batu Kuda, basa-basi dulu ke loket pendaftaran, untung masih inget sama penjaganya Bapak Engik, sambil pura-pura sok kenal dan minta no hp yang baru, akhirnya kita bertiga cukup bayar 2 tiket aja, dan mobil plus pengantar gratis, hehe….lumayan buat ongkos pulang. Sesampainya di Batu Kuda anggota yang sudah datang duluan tampak manyun gak jelas liat artis baru pada datang, langsung saja kita bertiga yang lulusan APH(Akademi Pelawak Himsipal) melancarkan banyolan untuk mencairkan suasana, tapi karena takut didenda 25ribu/banyolan akhirnya kami bertiga memutuskan untuk naik duluan(padahal takut kesusul sama siswa). Kondisi di mobil yang penuh AC dan kursi nyaman langsung dibayar tanjakan tanpa ampun, disambut bukit penderitaan yang cukup gersang, alhasil kita bertiga butuh oksigen tambahan,hehe……..melihat rombongan yang dipimpin rakay sudah mulai merayap mendekati kami, kami bertiga pun langsung tancap gas terus ke atas (kata otri ada titik aman pertama buat istirahat), sampai disana kita istirahat dulu dan siswa pun datang (nah loh kesusul juga sama siswa)hehe…..Karena sudah jam 13.30 rakay pun turun lagi ke Batu Kuda karena ada acara penting lagi katanya, dan rombongan digiring oleh emir dan fathipo. Karena takut disangka pamer kami bertiga pun mempersilahkan rombongan siswa untuk duluan saja, nanti kita susul. Setelah ngobrol dan melucu cukup lama, kami bertiga pun langsung tancap gas menyusul siswa, dijalan sempat kaget ketika kami menemukan sehelai warna pink diantara tanah dan daun kering (apaan tuh pinky-pinky di hutan, serem ihhh…), dan setelah didekati ternyata itu adalah handuk kecil milik dandiksar tercantik kita(huh, kirain apaan), ternyata baik juga ya ipo, tau kita lagi keringetan disediain anduk, langsung saja otri memanfaatkan barang temuanya itu. Tak lama kemudian pantat-pantat siswa sudah terlihat (iya da tanjakan). Ternyata kecepatan mereka sudah melambat drastis dibanding tadi waktu dibawah.
Setelah puncak bayangan penyakit lebay pun mulai berdatangan, mulai dari kram kaki, pusing, mual, pengen muntah, siswa udah selayaknya orang hamil aja, dengan alasan saling menolong dan saling menunggu mereka pun jadi banyak istirahat dan berhenti. Di jalan sempat ditemukan beberapa tanaman survival seperti anggur hutan, dan siswa pun yang baru tau langsung lahap mencicipinya. Beberapa ratus meter menjelang puncak siswa diberi selang waktu untuk berjalan, disaat ini terlihat makin kacau, banyak yang pura-pura kram (padahal mah cape), tp sekitar jam 16.00 semuanya sampai di puncak. Urutan siswa yang sampai di puncak dimulai dari dansis, dan satu siwa perempuan masih tertinggal di bawah, dansis pun langsung diperintahkan untuk turun kembali membantu siswa yang perempuan, tapi tidak berapa lama dansis pun datang dengan hanya membawa ransel milik temanya, dan temanya pun ditinggal di bawah dengan alasan sang dansis disuruh duluan aja(boongya keliatan bgt), dengan muka curiga saya pun menanyakan tentang kebohonganya si dansis, dan tanpa perlawanan dansis pun langsung mengaku (dasar amatiran), ketika mengaku sang dansis dengan inisiatif push up sambil berteriak bawa dia bohong , “saya bohong, saya bohong, saya boong, saya bolong,” (sudah mulai ngaco kecapean push up).
Begitu semuanya berkumpul di puncak acara berikutnya yaitu belajar mendirikan tenda doom, para intruktur sudah memberikan sebuah contoh tenda doom yang sudah berdiri, dan siswa harus membuat satu lagi yang sama persis. Ketika penjelasan dari instruktur, sang dansis pun berulah kembali, dia menguap (heuay) tanpa ditutup tangan sehingga mulutnya yang besar mengangga ke arah instruktur. Langsung saja sang dansis yang gemar push up itu turun untuk push up sambil berteriak “saya heuay, saya heuay”, melihat sang dansis push up, siswa yang lainya pun merasa sirik ingin push up, langsung saja mereka dengan setianya mengikuti push up sang dansis tapi dengan teriakan “darwin heuay, DARWIN HEUAY”, yang dirasa semakin lama teriakanya semakin keras (saking semangatnya push up). Akhirnya tenda siswa pun selesai, dan dilanjutkan dengan kegiatan “cooking time”, siswa memasak nasi, mie, dan kopi (huh gak elit makananya), sambil bingung melihat keanehan lilin yang bisa dibakar (parafin), dan instruktur yang juga merasa lapar mulai mengeluarkan peralatan masak. Kompor gak koper yang mirip koper pak Tarno disulap keluar dari ransel hengky, dan 2 ekor ayam muncul dari ransel chandra, teflon untuk penggorengan pun sudah siap, dan langsung saja warung ayam goreng dibuka saat itu juga, siswa yang baru pertama masak di gunung tertohok melihat ada ayam goreng di puncak,haha…..
Waktu makan malam pun tiba, dan untuk menghindari perkelahian antar instruktur demi memperebutkan ayam goreng, maka sistem pengambilan berdasarkan gambreng (bahasa indonesianya apa ya?) atau lebih elit disebut hom pim pah, dan langsung saja 1 ekor ayam hilang masuk ke perut semua instruktur. Setelah makan malam intruktur pun berleha-leha sambil menikmati teh manis panas, siswa sedang asik dengan kang rizky berdiskusi untuk membakar hutan (membuat perapian). Dan setelah waktunya habis api pun belum juga menyala, saya coba untuk mebuat sumber api yang lebih kecil, memang bisa menyala tapi tidak terlalu lama karena kayu-kayu disana basah. Akhirnya langsung saja ke acara berikutnya, intermezo yang saya pun bingung harus ngapain, yasuda saya isi dengan diskusi dan sedikit renungan malam, dengan nyala lilin diskusi pun dimulai dengan pendapat mengenai perjalanan hari ini, masalah orang tua, persaudaraan, himsipal, dan masalah pendidikan. Setelah cukup lama melamunkan berbagai kesalahan akhirnya siswa pun saling menatap dan berterima kasih satu sama lainya, dan mereka pun langsung tertidur.
Disaat siswa sedang terlelap tidur, jam 22.00 terdengar ada sekelompok orang menuju ke arah puncak, dan mereka pun meminta ijin untuk ikut bikin tenda di dekat tenda kita. Mengetahui bahwa kelempok itu cowok semua, sang dandiksar yang merasa paling cantik langsung pura-pura sweeping tempat sekitar camp (padahal mah mau cari yang ganteng, huhuy…), mungkin karena tidak ada yang ganteng dandiksar pun kembali ke kandang basecamp. Di basecamp diadakan evaluasi acara seharian ini, dan rencana kegiatan untuk hari besok. Setelah sesi evaluasi selesai, dilanjutkan dengan sesi curhat dan sesi tidur. Mengaku ngantuk jam 01.00 dandiksar langsung menuju tenda untuk tidur, sementara para cowok ganteng tidur di basecamp. Giliran awal emir yang berjaga sama rizky, tapi emir ditinggal tidur oleh rizky dan akhirnya diapun berjaga sendiri ditemani oleh lagu-lagu (dangdutan mungkin biar tetep melek). sekitar jam 04.00wib emir mungkin sudah merasa mengantuk dan membangunkan chandra untuk gantian berjaga, merasa respon kurang dari chandra emir pura-pura nanya jam ke saya (padahal di hapenya jug ada jam). akhirnya saya pun bangun (kepaksa). Mendengar suara berisik dari basecamp dandiksar pun langsung keluar tenda untuk bergabung, bilangnya sih gabisa tidur gara-gara suara ribut dari tetangga sebelah (padahal yg di basecamp aja pada bisa tidur, ah itumah iseng nguping aja,haha…). Karena nanggung menunggu jam 05.00, kami pun masak air panas menggunakan kompor pak tarno sambil nyanyi-nyayi biar gak dingin.
Jam 05.00 pun tiba, dan giliran otri yang tidur dr sesi 1 belum bangun juga, begitu bangun otri langsung bangunin siswa dengan lemah lembut layaknya seorang ibu bangunin anaknya “Nak, bangun nak sudah siang”. Begitu siswa terbangun langsung mereka solat subuh dan olah raga pemanasan bareng otri. sedangkan instruktur yang lainya tertidur dan ada yang masak ayam goreng (deui,haha…). Siswa pun yang sedang memasak terlihat sedikit-sedikit mengintip ke arah dapur basecamp, karena takut didoakan oleh yang kelaparan, akhirnya kami pun memberikan sepotong ayam goreng kepada siswa (biar disangka baik). Setelah sarapan dilanjutkan acara latihan membuat bivoac dari ponco, setelah selesai siswa mulai packing. Saat packing dansis kembali mencuri perhatian, dia asik ngemil makanan sendiri, langsung saja inisiatifnya keluar untuk push up dan berteriak “saya makan, saya makan, saya mamam” (sambil ngunyah sisa makanan di mulut). Setelah persiapan untuk pulang selesai, siswa diajarkan sedikit teknik turun gunung dan teknik jatuh (pake teknik???). Rombongan pun mulai meluncur turun gunung layaknya singa lapar yang turun gunung. Tapi karena selalu tertinggal, posisi urutan pun sedikit dirubah, dan kembali semuanya meluncur turun gunung. Siswa yang masih amatiran mulai berjatuhan terpeleset karena belum pandai memilih pijakan. Mungkin karena keasikan atau capek tapi siswa mulai berjalan menluncur seperti naik prosotan TK (bubudakeun pisan,ckck). Akhirnya setelah 1 jam smapai juga di Batu Kuda, dengan kelelahan semuanya beristirahat. Ternyata di Batu Kuda sudah ada Kang getret yang dari semalam sudah di sana. kang getret rencananya akan menyusul pada malamnya bersama gifar, tetapi kang getret merupakan korban kesekian dari tipuan gifar.
Di Batu Kuda siswa makan siang sekalian sholat dzuhur, dan instruktur juga makan siang, sholat dzuhur sekalian ngeganteng soalnya mau turun ke kota. Untuk kesekian kalinya kompor pak Tarno dikeluarkan, kali ini untuk menggoreng spicy wings, dan sesuai jumlah instrukstur pas, sehingga tidak terjadi perkelahian. Sesudah makan siang rombongan pun turun menuju titik pertemua dengan supi angkot di lapangan tempat awal navigasi. Dari gerbang Batu Kuda disambut dengan jalan batu yang tajam, alhasil kaki pun mulai terasa nyut-nyut. Di jalan saya sempat ngobrol dengan kang getret yang curhat soal semalam di mesjid untuk tidur dan makan bolak-balik ke warung bandrek. Sambil mengobrol sambil menikmati pemandangan, tidak terasa mulai menyusul kelompok yang di depanya, sang dandiksar dan kang rizky yang tidak mau tersusul, padahal kecepatan mereka sudah mulai melambat, alhasil tantangan pun dimulai, kerasnya aspal dan sakitnya kaki diadu dengan balap lari, tapi tetap saja sang dandiksar yang merasa jagoan itu kalah (huh gak nyadar ya). Sesampainya di angkot, supir angkot langsung menawarkan kami air minum, tentu saja kami menolaknya dengan sopan (padahal haus juga sih), tp awalnya curiga kenapa supir angkot baik banget gitu. Dan dijalan pulang pun supir angkot itu menyampaikan rasa maafnya ke emir karena tidak jadi membawakan leupeut dan bala-bala sepeti yang sudah dijanjikan kemarinya. Supir angkot pun menawarkan jasa angkutan kemana saja kalau-kalau kita mau ke gunung, dasar supir angkot yang aneh.
Dengan demikian pendakian pun selesai dengan kesan-kesan dan pengalaman yan g berbeda dari setiap orang yang ikut dalam rombongan itu. Tapi ada satu hal yang paling berharga, bahwa manusia itu kecil dibandingkan dengan alam, dan hidup itu adalah petualangan. Kita semua menikmati perjalanan ini, banyak pengalaman baru yang didapat. Teruskanlah menjelajahi alam guna mengetahui apa arti hidup, teruslah jaga persaudaraan dan kekompakan kita semua. Himsipal tetap jaya!
Live is Nothing Wihout Adventure!!!!

Komentar

  1. hahahha,,, ujung2 na mahm,m sang dandiksar,,kalah,,tapi yg nyampe puncak dluan siapa hayo?? 1 sama kang ibeeeeeeee,,, hhahahhaa

    BalasHapus
  2. perasaan pern utamana maneh nya be? pan nu ganteng na aing? kuduna aing jadi peran utama

    BalasHapus
  3. masalahna nu ngarasa gantengna teu bareng jeung urang wae mir, hehe
    namanya juga tulisan, jd berdasarkan penglaman penulis.
    FAT, nanti sabtu pertandingan berikutnya yah!

    BalasHapus
  4. kalo disini gimana mau nglike nya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Rules of My Life

Renungan Rinjani

Papan Panjat HIMSIPAL