Catatan Perjalanan Gunung Ciremai 3076mdpl 15 - 17 Agustus 2009

Catatan Perjalanan Gn.Ciremai 3076 mdpl

Sabtu, 15 Agustus 2009

Hari ini anak-anak HIMSIPAL dijadwalkan akan mendaki gunung Ciremai melewati jalur apuy di daerah majalengka, menurut jadwal sih kita kumpul di depan Dunkin Donuts deket terminal cicaheum jam 07.00 pagi, tapi sampe jam 8an anak-anak yang berangkat dari sekolah belum pada nongol juga. Akhirnya sekitar jam 9an nongol juga anak-anak yang dari sekolah, ada Doni, Candra, Emir, Rizky (bolang), Iwit, Izzah, Aruni, Cintya, Dita, Zeni. dan setelah semuanya berkumpul dan mengcek semua logistik, dan merasa cukup, kita semua berdoa, dan setelah berdoa Doni dan Candra langsung cari bis majalengka yang menurut mereka paling murah diantara bis yg lainya. Akhirnya setelah menemukan bis yang cocok, kita pun naik bis itu, baru berangkat beberapa menit Candra turun lagi dari bis, karena kunci kantornya kebawa dan harus ngembaliin kuncinya dulu, akhirnya kita berangkat tanpa candra dan janjian lagi nanti di terminal maja.

Di perjalanan sekitar Sumedang ternyata macet total, Zeni sempet beli peci dari tukang asongan yang cuma 3rb, trus saya juga beli koran alay lokal daerah situ cuma 1rb, lumayan buat baca-baca, bisa jadi alas duduk dan dibakar nanti di gunung. Yang tadinya menurut jadwal sampe di terminal maja jam 11.00, ternyata jam 13.00 baru nyampe terminal dengan pantat yang udah rata karena kelamaan duduk di bis alay itu. Setelah sampai di terminal kita langsung cari tempat makan siang disana sambil nunggu Candra, dan akhirnya warung seorang ibu-ibu yang ada di sebrang jalan yang jadi pilihanya. Sambil menunggu makanan turun, Candra pun datang, dan Doni langsung mencari pick up yang bisa mengangkut kita bersebelas ke basecamp Apuy. Setelah melewati tanjakan dan tikungan yang edan, dan serasa sapi yang diangkut pake mobil pick up, kita pun sampai di basecamp Apuy, dan kita re-packing lagi di mesjid deket situ sambil sekalian solat dzuhur + ashar. Ternyata kuncen ceremai “Pak Suja” dateng ke mesjid itu, jadi kita gausah dateng ke rumahnya buat minta ijin sama beli tiket masuk. Sambil siap-siap kita dan kelompok pendaki lainya diceramahin dulu, salah satu syarat naik ceremai yaitu kita gabole teriak manggil orang, dan nanti begitu sampai dipuncak harus langsung duduk, soalnya anginnya kenceng banget, takutnya pada terbang kebawa angin.

Akhirnya sekitar jam 15.00 pendakian pun dimulai, awal pendakian sudah disambut dengan tanjakan jalan berbatu, dan vegetasi perkebunan dikanan dan kiri jalur tanjakan, membuat kaki beratnya sampe 50kg karena ditarik mental yang down, tim pun terbagi dua jadinya, ada yang didepan dan ada yang dibelakang, jalanan di kebun tersebut berbelok-belok dan menanjak, sempat terlintas buat motong jalan, tapi takut nyasar. Sekitar jam 16.30 kita sampai di pos 1, pos ini berupa bilik tempat razia eidelweis dan ada warung disitu, setelah istirahat sekitar 30 menit kita lanjut naik lagi, jalan setelah pos 1 lebih menanjak lagi, tapi sudah masuk vegetasi hutan hujan tropis, jadi gak sepanas jalan di kebun tadi, dan sekitar jam 18.00 akhirnya kita memutuskan buat ngecamp di jalan, karena anak himsipal tidak dianjurkan buat jalan di gunung malam-malam, karena memungkinkan buat nyasar. Karena keterbatasan tempat akhirnya kita pun hanya mendirikan 2 tenda dari 3 tenda yang dibawa, pada saat kita mendirikan tenda, ternyata Zeni menemukan teman entah darimana, dan mereka pun asik ngobrol sambil bakar2 ranting, dan yang jelas sambil ngerokok (dasar si aki jejen), setelah makan malam kita pun tidur sekitar jam 9an.



Minggu, 16 Agustus 2009

Sekitar jam 2an tengah malam, terdengar suara aneh, “kretekkkkk….trakkkk”, dan setelah disenterin, ternyata frame tenda yang cowo patah ditengah, alhasil tenda pun ga jelas bentuknya, dan pas saya lihat di sekitar ternyata tenda itu diisi 6 cowo ganteng beserta para ranselnya, dan Zeni menduduki peringkat paling atas dari semuanya, setelah inget kalo itu tenda hasil udunan, langsung saja saya bangunin anak-anak dan ngusir mereka semua supaya keluar tenda. Akhirnya kita putuskan buat packing jam segitu, tapi tenda cewe blm dibangunin. Anak-anak cowo pada bagi tugas ada yang ngelipet tenda, ada juga yang masak air panas, setelah tenda beres dan air panas siap, kita bangunin anak-anak cewek, dan ternyata disitu kita tau Dita sakit (wah sulit euy), kita pun bantuin anak-anak cewek packing, dan ngecek Dita. Setelah semua siap akhirnya kita pun melanjutkan perjalanan sekitar jam 04.00, di jalan kita sempet lewat pos 2, dan disana ternyata banyak tenda-tenda yang ngecamp juga, akhirnya kita melanjutkan perjalanan sampe sekitar jam 07.00 kita istirahat sambil sarapan, dan ngecek Dita yang makin parah sakitnya.
Setelah sarapan dan membuat racikan obat buat Dita, kita melanjutkan perjalanan menuju puncak, jalanya cukup landai, tapi menerus, dan yang mencurigakan kita melewati pos 3 dua kali, ternyata papan pos tiga ada 2, jadi yang semula kita kira pos 4, ternyata baru pos 3 jilid 2,haha…...

Kita nyampe di pos 5 sekitar jam 1an, dan ternyata pos 5 adalah pos terakhir yang berada di hutan, karena selanjutnya vegetasi hutan berupa tanaman tandus di ketinggian seperti tanaman eidelweis dan pohon asem, dari pos 5 perjalanan depercepat karena melihat ada banyak pendaki dari jalur lain yang mau ke puncak, dan saya, Iwit, Aruni, Cintya, Zeni menunggu tim yang dibwah di pertigaan jalur apuy-palutungan, namun setelah 1 jam menunggu dan tertidur pulas disitu, tim yang dibawah belum sampai juga, akhirnya tim yang diatas memutuskan untuk geber dulu sampai gua wallet buat booking tempat.
Di deket dua wallet kita istirahat, dan saya ngemil mie instant, pas disitu saya baru tau kalo anak-anak MB bisa geber karna air di ransel mereka udah pada abis, dari 3 org Iwit, Aruni, Cintya, air mereka udah pada abis (wah bocor dijalan ini mah), yauda daripada marah-marah saya mending tidur aja dibawah payung, hehe…..

Sekitar jam 4an jalur ke puncak ramai sekali, sudah seperti di pasar, sampe macet, tapi anak-anak yang dibawah kok gak nongol-nongol juga sampai akhirnya dari walkie talkie terdengar suara emir yang bilang kalo Dita parah di pertigaan apuy-palutungan. Akhirnya diputuskan saya turun lagi dengan perlengkapan medic, dan rolling dengan emir+bolang+izzah yang ke atas. Emir, Bolang, Iwit, Cintya, Aruni, Izzah langsung meluncur ke puncak buat booking camp, Zeni bikin bivoac d gua wallet, dan saya, Doni, Candra mencari solusi buat Dita, akhirnya kita putuskan buat kasih Dita obat tidur supaya dia tidur dulu, dan Dita pun kita buat pingsan di pertigaan apuy-palutungan, hehe….

Sekita jam 17.00 Dita pun bangun, dan langsung kita gusur ke puncak, entah karena efek obat atau kenapa, tapi tiba-tiba Dita langsung semangat dan fisiknya meningkat berkali-lipat, akhirnya kita pun geber sampe gua wallet, di gua wallet udah ada Zeni yang lagi ngrokok di dalam bivoac yang cukup unik (dasar si aki jejen), karena saking semangatnya Dita pengen langsung ke puncak sama Doni+Candra, dan saya+Zeni diam dulu di gua wallet takut yang diatas gak kebagian camp. Setelah menugggu sampai jam 19.00 kita kehilangan kontak dengan tim yang dipuncak, mungkin camp diluar jangkauan walkie talkie, saya dan Zeni akhirnya memutuskan buat nekat ke puncak berdua tanpa kepastian tau camp himsipal dimana, dan hebatnya lagi ternyata disitu masi ada ransel Dita, jadi ada satu orang yang bawa dua ransel,hahaha…… dengan modal headlamp kita berdua mulai bergerak ke puncak, ternyata jalanya turtar(tuur kana tarang), gilaaa…..vertikal 90 derajat, ditambah gelap dan ransel surprise, dan si aki jejen mulai kewalahan nafasnya, saya kira yang ngerokok nafasnya lebih kuat karena biasa menghisap asap kotor, tapi tidak pada aki jejen,hehe…..dan setalah mati-matian naik ke puncak, ternyata puncaknya lebar pisan, dan gelap, ditambah kita bingung harus jalan kemana, untungnya walkie talkie sudah jalan lagi, dan kita langsung minta Doni supaya jemput ke posisi kita, akhirnya Doni datang dengan jaketnya yang warna kuning tea.

Setelah sampai di camp himsipal, saya terkejut karena melihat camp berantakan seperti baru ada tsunami, ternyata mereka baru pada makan dan langsung tidur (jadi saya ditelantarkan dengan aki jejen) hiks….. karena sudah malam kita pun langsung tidur, tapi karena satu tenda sudah tidak berfungsi dan 2 tenda lainya tampak alay, saya dan jejen tidur diluar dengan membuat bivoac diantara ilalang. Aki jejen memilih ilalang dan membuat lubang pada ilalang tersebut, dan saya membuat boviac dan melapisi diri dengan plastik tubular

Senin, 17 Agustus 2009

Suhu sampai sekitar 5 derajat celcius ditambah angin dengan kecepatan sekitar 60km/jam, membuat dinginya puncak ciremai semakin menggila, dan baru sadar kalo tidur diluar tenda di gunung setinggi itu adalah ide paling gila. Akhirnya sekitar jam 4an terdengar teriakan para pendaki lain yang akan menuju titik triangulasi (titik tertinggi di suatu gunung),”Allahu Akbar…..”, dan saya pun berinisiatif bangun dengan tangan yang membiru. Saya pun membangunkan anak-anak himsipal yang ada di tenda, sekitar jam 05.00 kita bersiap dengan jaket tebal masing-masing untuk berjalan ke arah titik triangulasi. setelah berjalan sekitar 15menit sampailah kita di titik triangulasi, kita mencari spot yang enak untuk menikmati sunriaise. Titik triangulasi berada di bibir kawah raksasa ciremai sehingga kita menghadap langsung ke kawah yang dalamnya sekitar beberapa km. Sekitar jam 05.30 sunraise pun dimulai, kita melihat matahari terbit diatas awan, melihat gunung-gunung tinggi lainya yang ada di pulau jawa yang bermunculan diatas awan, sambil mengibarkan bendera merah-putih dan bendera himsipal, diiringi dengan nyanyian lagu nasional, kita pun merasakan keindahan luar biasa yang Tuhan, lukisan alam yang tiada duanya, hanya decak kagum menikmati anugrah Yang Maha Kuasa. Langsung saja kesempatan tersebut tidak kita sia-siakan untuk mengabadikannya lewat foto-foto, dan diakhiri dengan renungan sebagai seorang pecinta alam diantara ciptaan Tuhan yang maha dahsyat. Yang membuar saya cukup tercengang, disana saya melihat ada beberapa pendaki gila yang nekat turun ke dasar kawah, memang sih itu adalah kawah kering, tapi kemiringanya yang sampai 90 derajat dengan bebatuan hitam yang keras menjamin bahwa siapa saja yang terpeleset bakal mengalami minimal kaki patah.

Setelah menikmati puncak ciremai yang maha indah, kita kembali ke camp untuk sarapan. Setelah Candra dan Doni menghitung persediaan air, ternyata persediaan air untuk 11 orang hanya tersisa 6 liter dari yang semula didata 27 liter (gila, siapa yang jadi onta nih???), akhirnya Candra yang memegang kendali penuh untuk masak. Candra+Doni yang sedang memasak menjadi tontonan yang menarik bagi anak-anak himsipal yang lainya, sampai terbengong-bengong dan lupa kalau harus membereskan semua barang yang sudah kayak kapal pecah diseruduk banteng. Akhirnya baru sekitar jam 10.00 kita beres makan dan beres-beres, setelah beres-beres kita menyempatkan untuk upacara bendera kecil-kecilan, bendera merah putih berkibar dan semua anak himsipal hormat sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, membuat semangat nasionalisme kembali meningkat bahwa tidak semua orang bisa menghargai bangsa ini.

Akhirnya sekitar jam 10.30 kita baru turun, dan puncak ciremai yang besar itu sudah kosong ditinggal para pendaki, sambil mengucapkan salam perpisahan kepada puncak indah itu kita pun langsung disambut dengan tarunan curam yang sampai 90 derajat. Dengan kecepatan penuh saya, cintya, dan bolang langsung meluncur ke bawah, sampai di pertigaan apuy-palutungan kita menunggu tim yang masih diatas. Setelah tertidur cukup pulas, ternyata tim yang diatas belum sampai juga, dari walkie talkie terdengar kalo terdapat dua korban (Dita+Izzah), akhirnya diputuskan kalo tim dibagi jadi dua, tim pertama turun duluan sampai basecamp dipimpin Candra, yaitu Cintya, Iwit, Aruni, Zeni, dan tim kedua menunggu yang diatas. Tim pertama langsung meluncur kebawah, dan sekitar jam 01.00 tibalah Doni, Dita, dan Izzah, setelah dicek ternyata Dita demam tinggi, dan Izzah sakit maag, akhirnya kita putuskan buat bikin terpal dulu di pertigaan itu, Dita dan Izzah pun tertidur setelah diberi obat. Pasangan Bolang dan emir asik mengorek-ngorek tanah sambil mencari botol bekas untuk sekalian dibawa turun. Dan Doni asik melihat-lihat sekitar sambil foto-foto dengan anehnya, dan akhirnya ada pendaki lain yang mau berbaik hati meberikan Doni roti tawar dan setengah botol besar air (mungkin kasian lihat Doni seperti yang kelaparan)hehe…..

Sekitar jam 14.00 Dita+Izzah bangun, dan kita pun langsung bergegas. Setelah semuanya siap, langsung saja kita kebut kebawah, ditambah dengan ransel surprise,haha…… dengan kecepatan penuh kita meluncur, dan istirahat di setiap pos hanya sekitar 10menit. Di pos V baru sadar kalau jam saya tertinggal di pertigaan, alhasil emosi yang ada, dan membuat kita semakin menambah kecepatan meluncur turun gunung. Dengan patokan istirahat hanya 10 menit tiap pos, dari dari pos ke pos lari dengan kecepatan tinggi, alhasil sekitar jam 16.00 kita sudah sampai di pos 1 tempat pemeriksaan, disana sudah ada tim Candra yang lebih dulu sampai, dan kita baru tau kalau tim itu juga baru sampai (berarti kecepatanya super duper edan) haha……

Begitu sampai Pos I ransel kita langsung diperiksa polisi hutan, apakah membawa eidelweis atau tidak, dan polisi hutan itu pun sambil menawarkan stiker ciremai. Sambil bertistirahat kita semua sambil berfikir apakah bisa sampai ke terminal sebelum gelap?dikarenakan bis ke bandung hanya ada sampai sebelum gelap. Sambil berfikir, ternyata ada mobil pick up yang akan turun sambil mengangkut barang bawaan dari pos I ke desa di bawah, tanpa pikir panjang Doni+Candra langsung menawar mobil pick up itu sampai ke terminal, setelah nego yang sangat sengit dan cukup panjang, ditambah beban pikiran anak-anak sekolah yang harus masuk besoknya, akhirnya kita pun meluncur ke desa bawah dengan mobil pick up itu.

Tanpa dikira ternyata barang bawaan dari warung tersebut sudah hampir 1 bak mobil pick up itu, dan alhasil kita semua harus berbagi ruang dengan ransel dan barang-barang milik warga. Jalan yang berbatu ditambah barang-barang warung, ransel, dan jumlah orang yang melebihi kapasitas membuat perjalanan dari pos I ke desa menjadi heboh serasa naik jet coaster, badan yang sudah lelah turun gunung, harus dibanting-banting. Setelah perjalanan setengah jam yang mematikan, akhirnya kitapun sampai ke desa bawah, dan menurunkan barang-barang milik pos I tadi. Setelah itu kita masih optimis bakal sampai terminal sebelum gelap, tapi ternyata mobil yang seharusnya belok kanan malahan berbelok ke kiri dan menjauhi terminal, lalu berhenti di sebuah objek wisata, supirnya turun dan kita didiamkan selama setengah jam. Setelah menunggu dengan penuh tanda tanya akhirnya supirnya datang, dan kita baru tahu kalau supir itu baru saja mandi,(gila gak ngehargain orang yang nunggu, minta ijin aja engga). Setelah itu pick up pun melaju kencang namun berhenti lagi di depan rumah warga, dan supir itupun kembali berulah masuk ke rumah tersebut tanpa ijin dulu kepada penumpang, akhirnya dengan kesal saya masuk ke rumah itu dan mencari si supir, ternyata si supir lagi menunggu orangtuanya yang mau ikut ke terminal, spontan saya langsung ngamuk, (tadi nawar2 kan gak pake berhenti2 dulu, lama pula). Dan supir yang kesindir itu langsung masuk mobil dan menancap gas dengan kencang ke arah terminal, alhasil kita pun sampai terminal sekitar jam 8 malam.

“Jam 8 malam baru sampai terminal maja??gila….” itulah komentar kita begitu sampai di terminal sambil nongkrong di depan alfamart bersama dengan pendaki-pendaki lain yang terjebak tidak bisa pulang. Namun tak lama kemudian ada seorang polisi hutan yang menawarkan bantuan mencarikan elf ke daerah majalengka dengan tawaran harga yang cukup tinggi, kami pun setuju dengan agak terpaksa. Sambil menunggu elf jurusan Maja-Bandung, bolang pun mengakrabkan diri dengan sang polisi hutan, dan ditawari bunga eidelweis hasil razia,(dasar polisi hutan yang payah). Tak lama kemudian elf pun datang, dan kita langsung menuju Bandung, selama perjalanan di elf, semua penumpang yang semuanya pendaki gunung ciremai tertidur pulas, jadi kalau supir elf mau culik kita kemana aja juga bebas,hehe…..Dan sekitar jam 12 malam kita baru sampai terminal cicaheum, dan kita pun membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing.

Kesimpulan yang dapat diambil dari pendakian gunung Ciremai kali ini yaitu pendakian yang cukup berat, cukup banyak rintangan dan masalah yang dihadapi, namun kesigapan dan kemauan anggota himsipal untuk melakukan perkerjaan sesuai dengan keahlianya masing-masing dan toleransi yang tinggi membuat pendakian yang berat itupun dapat dilakukan. Namun semuanya tersadar terutama ketika berada di puncak, bahwa masih banyak sekali puncak-puncak gunung tinggi harus didaki, sama seperti masih banyak cita-cita dan keinginan yang harus diraih, namun dengan usaha, gunung setinggi apapun juga, jalan sejauh ratusan kilometer pun akan berhasil dilalui dengan diawali satu buah langkah yang kecil, niat yang tulus dan keinginan yang besar. Dari puncak ciremai pun kita sadar bahwa manusia hanyalah sebuah makhluk kecil diantara alam semesta, sehingga apapun alasanya kita tidak pernah boleh menantang alam apalagi merusaknya, semoga dengan pendakian ini dapat menumbukan kembali semangat kecintaan alam, dan tetap akan selalu menjunjung tinggi persaudaraan diantara kita. Masih banyak gunung yang harus didaki dan masih banyak pengalaman yang harus dibagi, jadi teruslah mencari dan berbagi pengalaman!
HIMSIPAL…….HIMSIPAL……..HIMSIPAL…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Rules of My Life

Renungan Rinjani

Papan Panjat HIMSIPAL